
Pada suatu hari yang terik di tepi sungai, seekor kancil cerdik berjalan mondar-mandir sambil memegangi perutnya.
“Aduh… lapar sekali. Andai ada buah di seberang sana,” gumamnya sambil menatap pohon-pohon rindang di seberang sungai.
Masalahnya, sungai itu penuh buaya. Banyak sekali. Dari ujung ke ujung, yang terlihat hanya mata dan punggung bersisik.
Tiba-tiba, kancil mendapat ide licik.
“Hai, para buaya!” teriaknya lantang.
Buaya-buaya itu mendekat. Pemimpinnya bertanya,
“Ada apa, Kancil? Mau jadi makan siang kami?”
Kancil pura-pura tertawa.
“Bukan! Aku diutus Raja Hutan untuk menghitung jumlah kalian. Akan ada pesta besar, dan kalian akan diundang!”
Mendengar kata “pesta”, semua buaya langsung bersemangat.
“Baik! Bagaimana caranya dihitung?” tanya mereka.
“Berbarislah dari sini sampai ke seberang sungai,” kata kancil. “Aku akan melompat di punggung kalian sambil menghitung.”
Buaya-buaya itu patuh. Mereka berjejer rapi seperti jembatan hidup.
Kancil pun mulai melompat:
“Satu… dua… tiga… empat…”
Sambil menghitung, ia terus melompat sampai ke seberang sungai.
Sesampainya di darat, kancil tertawa keras.
“Terima kasih, wahai buaya-buaya yang baik hati! Aku tidak menghitung kalian… aku hanya ingin menyeberang!”
Buaya-buaya itu sadar mereka ditipu.
“Dasar Kancil licik!!!” teriak mereka bersamaan.
Kancil sudah berlari ke hutan sambil melambaikan tangan.
Sejak saat itu, para buaya belajar bahwa terlalu mudah percaya bisa membuat mereka dipermainkan.
Pesan cerita:
Kecerdikan bisa menyelamatkan dari bahaya, tetapi jangan gunakan kepintaran untuk menipu orang lain.



