
Di sebuah hutan yang hangat dan damai, hiduplah seekor kancil cerdik bernama Kiko. Ia terkenal bukan hanya karena kepintarannya, tetapi juga karena kebiasaannya mencari camilan gratis.
Suatu siang, perut Kiko berbunyi keras seperti genderang perang.
“Lapar… lapar… lapar…” keluhnya sambil berjalan sempoyongan.

Tiba-tiba, ia melihat sebuah pohon mangga tinggi menjulang di tengah hutan. Buahnya lebat, kuning keemasan, dan tampak sangat manis.
Pohon mangga itu rupanya terkenal sombong.
“Lihat buahku! Banyak, besar, dan paling manis di seluruh hutan!” kata Pohon Mangga dengan nada pamer.
Kiko menelan ludah. “Wah, kalau begitu… bolehkah aku minta satu saja?”

“Tidak bisa!” jawab Pohon Mangga.
“Buahku hanya untuk yang bisa memetik sendiri. Kalau pendek, ya salah sendiri!”
Kiko kesal, tapi ia tersenyum licik.
“Baiklah,” katanya. “Kalau begitu aku akan duduk di sini saja.”
Tak lama kemudian, datanglah angin kencang. Pohon Mangga yang terlalu penuh buah mulai bergoyang.
Kiko pura-pura panik.
“Awas! Ada penebang pohon datang! Mereka hanya menebang pohon yang berbuah lebat!”
Pohon Mangga langsung gemetar.
“Apa?! Aku tidak mau ditebang!”
Saking takutnya, ia menggoyangkan dahannya kuat-kuat… dan BRAKK!
Puluhan mangga jatuh berserakan.

Kiko tertawa riang.
“Terima kasih, Pohon Mangga! Kamu memang paling dermawan di hutan!”
Pohon Mangga baru sadar ia ditipu.
“Dasar kancil licik!!!”
Kiko sudah berlari sambil membawa mangga di sekujur tubuhnya.
Sejak saat itu, Pohon Mangga berhenti pamer. Ia belajar bahwa terlalu sombong hanya akan membuatnya dipermainkan.
Pesan cerita:
Kadang yang paling tinggi bukan yang paling bijak — dan yang kecil bukan berarti tidak bisa menang. 😄



